Prophetic Leadership: Kepemimpinan Para Nabi
Bagian 1: Nabi Adam, Pemimpin yang Berani Mengakui Kesalahan
- Karakteristik yang paling menonjol dalam kepemimpinan Nabi Adam adalah berani mengakui kesalahan tanpa melibatkan pihak-pihak lain atau mencari dalih. Pengakuan Nabi Adam ini menunjukkan sikap kooperatif dan siap menerima segala konsekuensi dari kesalahannya.
- Kesalahan Nabi Adam adalah pelanggaran terhadap ketentuan Allah, yaitu untuk tidak mendekati sebatang pohon khuldi (istilah halus Al-Quran dalam mengungkapkan hubungan seksual).
- Cara pengakuan yang dilakukan oleh Nabi Adam mutlak didasari oleh nilai-nilai keikhlasan, bukan keterpaksaan, karena Nabi Adam tidak berupaya untuk menghilangkan barang bukti.
- Kondisi yang dihadapi Nabi Adam tidak jauh berbeda dengan kondisi perpolitikan saat ini dimana malaikat mengkritik Nabi Adam adalah bentuk kebebasan berpendapat, malaikat lalu berkoalisi dengannya karena logisnya argumentasi Allah, dan iblis yang menolak Nabi Adam menjadi Khalifah di bumi adalah bentuk oposisi tapi oposisi yg tidak sehat.
- Koalisi malaikat dengan Nabi Adam adalah koalisi yg didasarkan pada idealisme, bukan kepentingan. Sementara, sikap oposisi iblis didasari oleh kesombongan dan motif utk membunuh karakter Nabi Adam, bukan sebagai penyeimbang.
- Nabi Adam juga menjalani proper and test sebelum diberi jabatan sebagai Khalifah di bumi oleh Allah, yaitu semacam cerdas cermat melawan malaikat, dan karantina di dalam surga dengan ketentuan dilarang mendekati pohon Khuldi.
Kontras:
- Pemimpin saat ini mengakui kesalahannya karena tidak bisa mengelak dari bukti yg ada, bahkan berusaha menghilangkan barang bukti, berdalih, dan melibatkan pihak-pihak lain.
- Perilaku itu menunjukkan sikap tidak kooperatif dan tidak mau bertanggung jawab.
Bagian 2: Nabi Idris, Nabi yang Jujur dan Sabar
- Kejujuran dan kesabaran akan membawa pada pola kesederhanaan sehingga pemimpin yg memiliki kedua sifat ini akan memilili sifat qana'ah yg jauh dari sifat serakah dan glamor.
- Sifat jujur akan membuat seorang pemimpin hanya mau mengambil yg benar-benar haknya walaupun kesempatan untuk mengambil hak orang lain sangat terbuka7, sedangkan sifat sabar akan membuat dirinya mampu bertahan untuk tidak mengambil di luar dari hak yg sudah ditetapkan.
- Jujur dapat diartikan sebagai sifat yg tidak mendua sehingga jauh dari pengertian yg multitafsir.
- Pemimpin yg jujur dapat menumbuhkan kepercayaan di masyarakat sehingga kebijakannya akan selalu mendapatkan dukungan.
- Pemimpin harus sabar agar program-programnya diterima masyarakat dg baik karena tingkat pengetahuan masyarakat sangat bervariatif dalam menangkap kebijakan para pemimpinnya.
- Kesabaran dapat juga dipahami dalam arti kemampuan menahan diri dari berbuat sewenang-wenang karena kekuasaan yg sudah digenggam dapat membuat seorang pemimpin dapat melakukan apa saja.
Kontras:
- Pemimpin yang tidak sabar dan jujur bisa dilihat dari kebijakannya yg tidak memihak kepada kepentingan rakyat dan adanya upaya untuk melepaskan diri dari jeratan hukum meskipun peraturan yg diterapkan sangat ketat.
- Nilai-nilai kejujuran selalu diidentikan dengan ketololan, sementara ketidakjujuran diidentikan dengan kecerdasan.
- Pemimpin yg tidak jujur biasanya selalu berkilah dengan bahasa yg multitafsir sehingga akan selalu mendapat kritikan di masyarakat.
- Pemimpin yg tidak sabar selalu mengakhiri tugasnya dengan tragis dan berujung kepada sumpah serapah masyarakat.
Bagian 3: Nabi Nuh, pemimpin yg menolak intervensi keluarga
- Kondisi yg dihadapi Nabi Nuh adalah anak dan istrinya mengambil sikap oposisi. Istri Nabi Nuh adalah seorang pengkhianat terhadap tugas dan tanggung jawab yg dipikul suaminya, sedangkan anaknya bersengkokol dengan orang-orang kafir utk tidak menerima ajaran yg dibawa oleh ayahnya.
- Keyakinan istri dan anak Nabi Nuh tidak berpengaruh sedikit pun terhadap kepemimpinan Nabi Nuh. Bahkan ketika anak dan istrinya turut tenggelam dengan orang-orang kafir yg berlangsung di depan mata Nabi Nuh sendiri. Kokohnya idealisme Nabi Nuh ini karena Nabi Nuh menyadari bahwa yg dilakukan anak dan istrinya adalah salah.
- Pola kepemimpinan Nabi Nuh, yaitu mendahulukan kepentingan orang banyak daripada kepentingan diri dan keluarganya.
- Tingginya tingkat intervensi dari anak dan istri terhadap jabatan yg sedang disandang akan berdampak terhadap kebijakan yg akan diambil. Dalam hal ini, pemimpin akan dihadapkan pada sebuah dilema, yaitu berbenturan antara kepentingan keluarga dengan kepentingan masyarakat yg biasanya selalu dimenangkan oleh kepentingan keluarga.
- Seorang pemimpin harus bisa membatasi intervensi keluarga agar tidak terlibat jauh dalam kekuasaan yg diembannya.
Kontras:
- Para penjilat pemimpin selalu mencari celas untuk kepentingan pribadinya, salah satunya dengan memanfaatkan intervensi istri dan anak-anak pemimpin.
- Kebijakan pemimpin saat ini selalu diwarnai oleh pesanan istri dan anak-anaknya. Tidak heran kalau ada istri dan anak dari seorang pemimpin lebih arogan dari ayahnya sendiri.
Bagian 4: Nabi Hud, pemimpin yg teguh memegang prinsip
- Salah satu syarat mutlak seorang pemimpin adalah keteguhan dalam memegang prinsip. Dalam konteks kekinian, ada dua prinsip yg harus dipegang teguh, yaitu memegang teguh janji-janji yg sudah diobral ketika kampanye dan memegang teguh sumpah jabatan yg sudah diikrarkan.
- Keteguhan memegang prinsip hanya dapat dilakukan jika jabatan kepemimpinan didapatkan melalui reputasi dan kredibilitas, bukan karena uang dan pembohongan.
- Keteguhan memegang prinsip tidak akan muncul dengan sendirinya kecuali jika seorang pemimpin mengerti betul kebenaran prinsip yg dipertahankannya.
- Indikator umum yg dapat digunakan untuk memilih pemimpin seperti Nabi Nuh, yaitu dengan melihat reputasi mereka selama ini di masyarakatnya.
- Kondisi yg dihadapi Nabi Hud adalah masyarakat yg kafir. Penolakan mereka tidak dilandasi argumentasi logis, tetapi karena mereka tidak dapat memahami pesan-pesan kebenaran yg dibawa oleh Nabi Hud. Mereka juga menganggap kebenaran hanya ada pada mereka dan tidak pada orang lain.
Kontras:
- Kepemimpinan yg didapat pemimpin saat ini bukan karena reputasi dan kredibilitas, melainkan karena uang dan lain-lain. Oleh karena itu banyak pemimpin yg mati-matian memperjuangkan jabatannya meskipun secara moral sudah sangat pantas untuk mengundurkan diri. Bahkan, masih ada yg berselera tinggi untuk mencalonkan diri kembali meskipun reputasi kepemimpinannya yg lewat penuh dengan kegagalan.
Bagian 5: Nabi Saleh, pemimpin yg memegang amanah dan nasihat
- Kemampuan memegang amanah dan menyampaikan nasihat seorang pemimpin berkaitan dengan kehidupan masyarakat yg dipimpinnya. Oleh karena itu, kedua kemampuan ini hanya dapat dijalankan jika pemimpin tersebut benar-benar mampu beradaptasi dg kehidupan rakyat utk mengetahui apa yg sebenarnya dibutuhkan rakyat.
- Kemampuan memegang amanah ditandai dengan keberhasilan mengangkat taraf kehidupan rakyat. Sedangkan, pentingnya menyampaikan nasihat kepada rakyat guna menggiring rakyat kepada kehidupan yg lebih baik.
- Kondisi masyarakat yg dihadapi Nabi Saleh, yaitu tidak menyukai orang-orang yg memberikan nasihat, melihat siapa yg penyampainya bukan apa yg disampaikan (tidak mau menggunakan akal sehatnya), suka mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan, sombong, pemukanya intimidatif. Meski begitu, Nabi Saleh tidak pernah berhenti menyampaikan amanah dan senantiasa menasihatnya. Hal ini menunjukkan tingginya rasa tanggung jawab Nabi Saleh terhadap keberadaan masyarakat yg dipimpinnya.
Kontras:
- Masyakat tidak mempedulikan pesan yg disampaikan oleh pemimpin saat ini karena pemimpin yg tidak amanah. Sebaliknya, yg muncul adalah kecurigaan-kecurigaan terhadap pemimpinnya.
- Jika pemimpin sudah tidak amanah, serasional apa pun pesan yg disampaikan tidak akan pernah didengarkan oleh masyarakat.
Bagian 6: Nabi Ibrahim, sosok pemimpin yg rela berkorban
Informasi lainnya:
- Buku Qashash al-Anbiya karya Ibn Katsir: buku tentang sejarah nabi-nabi dalam Al-Quran

0 Komentar